13 April 2015

Kekacauan Yang Terencana adalah Sesuatu Yang Baik


Oleh : Ali Fauzi

Mari merencanakan sebuah kesibukan di kelas. Merencanakan bising untuk berinovasi. Merencanakan target besar yang melibatkan anak secara langsung. 
Batasan materi pelajaran sering membatasi guru terhadap kemampuan anak. Ada anak yang mampu melampauinya, ada juga anak yang karena alasan tertentu mengalami kesulitan. Bisa jadi, salah satu alasannya adalah karena kurangnya ruang dan waktu bagi anak untuk mencoba dengan gaya belajarnya sendiri.

Mari kita perhatikan!, Suasana kelas tampak diam, tangan terlipat rapi di atas meja, mulut tertutup, dan tak ada gerakan yang berlebihan. Kondisi kelas tersebut bisa saja mengundang tanda tanya. Mereka tertib karena takut atau mereka memerhatikan dengan saksama karena memang menarik.

Siswa yang rapi dan diam ketika belajar masih sering menjadi indikator kesuksesan seorang guru. Padahal, berdasarkan beberapa penelitian, kemampuan seorang anak mampu fokus terhadap sesuatu hanya sekitar 15 menit. Bahkan, beberapa peneliti mengungkap bahwa fokus optimal seorang anak sesuai dengan usia mereka. Jika anak usia 7 tahun, maka tidak jauh dari 7 menit. Dengan kondisi seperti ini, maka menuntut anak mendengarkan ceramah selama 60 menit terus menerus akan menyebabkan banyak waktu yang terbuang.

Sistem pendidikan dengan target materi yang ketat, menimbulkan ketakutan akan ketinggalan. Lebih berbahaya lagi, jika menyebabkan keengganan anak untuk berpikir lebih banyak. Misalnya, buat apa mempelajari sesuatu yang tidak diujikan? Akibatnya, inisiatif menjadi sesuatu yang tidak disukai. Dengan kondisi ini, seolah-olah, lembaga pendidikan memiliki kemampuan prediksi yang harus diikuti. Bahkan beberapa kegiatan ekstrakurikuler cenderung mendorong anak untuk mengikuti jalur yang sudah diprediksi.

Sudah saatnya, para guru mempertimbangkan cara yang lebih baik. Metode yang memberikan ruang dan watu lebih banyak bagi anak untuk menggunakan nalar, panca indera, dan fisiknya untuk memunculkan kreativitas mereka. 

Selengkapnya...

7 April 2015

(Seharusnya) Belajar = Melatih Berfikir, Bukan Belajar = Menghafal Materi


oleh: Ali Fauzi


Mulai hari ini, bertanyalah pada diri sendiri pada saat mengajar.

“Apakah anak-anak sudah mengetahui fungsi materi yang saya ajarkan ini bagi kehiduan mereka?”
“Apakah saya sudah memberinya pengalaman belajar dan pengalaman hidup?”
“Apakah mereka bertambah ilmu atau bertambah hafalannya?”
“Apakah mereka sudah belajar memecahkan masalah dari materi ini?”
"Apa yang mereka pelajari atau apa mereka hanya menghafal?"

Ketika mengajar bidang studi tertentu, misalnya, apabila seorang guru hanya berfikir bahwa tugas utamanya adalah menyampaikan materi dan harus habis dalam waktu tertentu, maka yang akan muncul dalam pembelajaran adalah tuntutan kepada anak utk menghafal. Bagi anak yang tahan, maka hafalan bisa dikuasai. Namun, bagi anak yang memiliki kecenderungan mencoba atau menyukai kegiatan praktik, maka hafalan menjadi sangat sulit.

Proses belajar, akhirnya, berubah menjadi proses menghafal. Tidak ada yang salah, menghafal memang melatih berfikir, akan tetapi hanya bagian kecil saja. Sungguh, setiap anak dengan usia tertentu, jenjang tertentu, dan masa tertentu harus mulai dilatih mengolah informasi dan memecahkan masalah sesuai tingkatannya. Kita juga menyajikannya dengan metode pembelajaran yang menarik.

Cobalah memberi persoalan kepada anak, dan lihatlah keajaiban-keajaiban yang terjadi!

Selengkapnya...

24 Maret 2015

"Tuan Rumah" Sebagai Pengganti Piket Kelas





Oleh: Ali Fauzi

“Pak, aku nggak mau lagi jadi Tuan Rumah. Capek”

“Pak, nggak enak jadi Tuan Rumah.”

Mula-mula, inilah kesan anak-anak kelas kami ketika menjadi Tuan Rumah. Di kelas, kami mencoba tidak lagi menerapkan jadwal piket. Sebagai gantinya, kami menyebutnya “Tuan Rumah”. Sebenarnya, tidak banyak berbeda dengan jadwal piket, hanya saja ada beberapa kelebihan dalam model Tuan Rumah ini.

     Tugas
Tugas Tuan Rumah sama dengan petugas piket. Dia harus menyiapkan teman-temannya dalam berbaris, belajar, membuat kondisi kelas menjadi nyaman, mengingatkan teman untuk menjaga kebersihan, bertanggungjawab atas semua proses pembelajaran yang terkait dengan siswa (misalnya, menyambut guru, menghapus papan tulis, membagikan kertas LKS atau surat, dan seterusnya).

     Waktu
Perbedaan utama terletak pada waktu. Jika jadwal piket berdasarkan harian, maka Tuan Rumah harus mampu memimpin, bekerja, dan melayani selama satu minggu penuh. Jadi, jadwal disusun berdasarkan mingguan. Dalam satu minggu, terdapat tiga atau empat orang yang akan menjadi Tuan Rumah.

Selengkapnya...

2 Agustus 2013

Kelas Inspirasi Ramadhan

Pada kesempatan berbagi materi di Pesantren Latihan Riyadhah Ramadhan kepada anak-anak SD Al Azhar Syifa Budi Cibubur-Cileungsi tahun 2013 ini, penulis mengajukan pertanyaan: Ketika Tuhan memberikan satu kesempatan untuk pasti berhasil, maka apa yang akan kamu lakukan untuk mewujudkannya?

Pertanyaan itulah yang menginspirasi anak-anak untuk mencari cara bagaimana berusaha yang terbaik yang bisa mereka lakukan. Mereka berusaha mengetahui dan menyadari bahwa Tuhan tidak pernah pilih kasih. Manusia terlahir dengan potensi yang sama. Apabila ada yang pintar dan kurang pintar, maka perbedaannya adalah dalam strategi penggunaan otak; yang satu dilatih dan yang lain kurang dilatih.

Itulah materi yang terinspirasi dari salah satu bagian dalam Indonesia Mengajar. Semoga anak-anak Indonesia menjadi pribadi unggul.

Selengkapnya...

31 Mei 2013

Gerakan Direksi Mengajar, Membangun Mental Juara



Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengajar di SMA Negeri 1 Bogor, Jawa Barat (20/05/2013)

Pendidikan merupakan hak setiap orang. Berkat pendidikan, setiap orang bergerak menuju tahapan yang lebih tinggi dalam kehidupannya. Dalam skala yang lebih luas, pendidikan merupakan lokomotif menuju perubahan. Artinya, kemajuan pendidikan sebuah negara dimaknai akan mengangkat derajat suatu bangsa menjadi bangsa yang maju. Memahami hal tersebut, tidak hanya pemerintah yang turun tangan, tetapi juga pihak-pihak lain yang memiliki perhatian pada dunia pendidikan.

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, 11 Direksi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengajar secara serentak di 11 sekolah menengah atas (SMA) di seluruh Indonesia. Kegiatan ini juga merupakan dukungan atas Gerakan Direksi Mengajar yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN. Para direksi tersebut mengajar di sekolah yang dulunya merupakan tempat para direksi pernah mengenyam pendidikan SMA atau sekolah yang telah ditentukan oleh BRI.

“Sebanyak 11 SMA yang menjadi tempat mengajar direksi BRI, yaitu SMA Negeri 1 dan 2 di Bogor, SMA Negeri 1 Sragen, SMA Negeri 1 Pangkah-Tegal, SMA Negeri 1 Boja-Semarang, SMA Negeri 16 Surabaya, SMA Negeri 1 Boyolali, Ummul Quro Bogor, SMK Negeri 1 Pare-Pare, SMA Negeri 2 Yogyakarta, dan SMA Negeri 3 Purwokerto,” ungkap Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali di Jakarta.

Dengan mengusung tema “Membangun Mental Juara Bersama BRI”, melalui sharing pengalaman dan kisah sukses, para direksi tidak hanya mengajar, tetapi juga mengajak para siswa memiliki mental juara dalam mengejar cita-citanya. Beberapa nilai yang ingin ditanamkan melalui program Gerakan Direksi Mengajar di antaranya adalah kejujuran, kerja keras, dan tekad yang kuat untuk mencapai prestasi tertinggi.

Kegiatan ini mendapat apresiasi yang sangat baik dari pihak sekolah. Umumnya mereka menyatakan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi para siswa untuk mencapai cita-citanya. “Sekolah kami hari ini seperti mendapat durian runtuh. Kami tidak menyangka sekolah yang cukup jauh dari kota ini mendapat kesempatan untuk memperoleh sharing success story dari Direktur BRI. Kami harap kedatangan direktur BRI dapat meningkatkan motivasi para siswa dalam berprestasi,” kata Kepala Sekolah Negeri 1 Pangkah, Tegal Munaseh.

Agar lebih menyatu dengan para siswa, sistem pengajaran dibuat dengan konsep yang santai dalam balutan diskusi interaktif. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami. Hari ini kami mendapatkan pelajaran berharga dari Direktur BRI yang tidak lain adalah kakak kelas kami sendiri. Suatu saat, saya akan menjadi orang yang lebih hebat dari beliau,” ujar Ketua OSIS SMAN 2 Bogor Triani Nur Fariha.

Ali mengatakan, manajemen perusahaan sangat mendukung gerakan ini. Nantinya, kegiatan ini dapat memotivasi dan menginspirasi siswa-siswi. “Semoga adik-adik kita ini terpacu untuk meraih mimpinya pada masa depan. Jadi, mereka melihat langsung ‘kakaknya’, untuk sukses itu, seperti direksi ini,” ungkap Ali.

Sebagai wujud komitmen BRI untuk mendukung peningkatan dunia pendidikan, selain berbagi success story, BRI turut memberikan bantuan Corporate Social Responsibility BRI Peduli Pendidikan di 11 sekolah tempat direksi mengajar. Bentuk bantuan merupakan sarana prasarana pendidikan dengan nilai bantuan lebih dari Rp 2 miliar, yang meliputi laptop, laboratorium, renovasi sekolah, alat-alat kesenian, dan lain-lain.

“Dengan bantuan sarana prasarana penunjang pendidikan, diharapkan mutu pendidikan di sekolah meningkat untuk meningkatkan motivasi dan prestasi para siswa,” tutur Ali.

Sumber: banggaberindonesia.com

Selengkapnya...

15 Mei 2013

Mendidik Anak Berpikir Kritis dan Analitis

Oleh: Ali Fauzi

Kalau anda memberi ikan kepada orang kelaparan, maka anda menyelamatkannya hari ini. Akan tetapi, kalau anda mengajarinya memancing, maka anda menyelamatkan dia dalam waktu panjang. Inilah salah satu alasan kenapa penting dan perlu mengajarkan anak berpikir analitis.

Transfer pengetahuan ke anak memiliki beberapa tipe. Salah satu yang digemari adalah model hafalan. Padahal model ini sudah seharusnya tidak sering dipakai lagi. Karena kalau diteliti dan diingat, apa yang kita ajarkan kepada anak melalui hafalan tidak lebih penting dari cara mengolah pengetahuan itu sendiri.

Pada akhirnya, pengetahuan bukan untuk menjawab soal ulangan atau ujian, melainkan untuk modal mengarungi kehidupan.

Cepatnya informasi memudahkan bagi siapapun untuk mengetahui banyak hal. Kalau pengetahuan sungguh mudah, maka modal penting bagi anak adalah cara mengolah dan memanfaatkannya. Karena, keterampilan ini juga akan mereka gunakan dalam memecahkan kehidupan sehari-hari.

Melatih anak berpikir kritis dan analitis haruslah melalui tahapan. Ini adalah tahapannya.

1. Memahami

Ini adalah tahap awal. Memahami dengan baik pengetahuan itu sendiri.

2. Membandingkan untuk Mengidentifikasi perbedaan dan persamaan

Latihlah anak untuk membandingkan dua persoalan yang berbeda atau dua pengetahuan yang terkait. Bisa jadi yang pro dan kontra, yang kini dan sebelumnya, atau pengetahuan yang sejenis di kasus yang berbeda.

Tujuan utama membandingkan adalah kemampuan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan.

3. Menarik kesimpulan (sintesis)

Setelah membandingkan, maka mengajari anak untuk menarik kesimpulan. Dalam proses ini, bisa jadi nanti mengambil kelebihan dua-duanya atau mengkolaborasi dan memadukan persamaan dan perbedaan tersebut.

4. Berpikir mandiri

Inilah tahap kreatif yang ingin dicapai. Buatlah contoh, ciptakan kondisi, dan latihlah anak untuk tidak takut mencoba hal baru yang belum pernah ada.

Terimakasih, semoga bermanfaat.

Selengkapnya...

15 April 2013

Film Pendidikan Yang Menginspirasi

Oleh: Ali Fauzi

Menjadi guru itu mengasyikkan. Itulah setidaknya yang sangat jelas terasa ketika menonton film ini. Menjadi guru juga haruslah merupakan panggilan hati. Film yang berjudul Front of The Class ini bukan film biasa. Film ini berkisah tentang seorang guru yang berhasil membuat anak-anak didiknya mencintai, berbahagia, dan membanggakannya.

Film ini mampu membuat kita terdiam beberapa saat setelah menontonnya. Terdiam karena film ini menarik, menyadarkan, memberikan semangat, menginspirasi, menghibur, dan sangat menyentuh.

Para guru, kalau anda butuh semangat baru, perlu charging spirit lagi, film ini sangat cocok. Mungkin anda akan terpesona, menitikkan air mata, merasa bangga, dan kita akan terbangun bahwa aku juga bisa dan bisa lebih baik.

Untuk para guru dan orangtua, ini adalah film yang sangat tepat untuk ditonton. Anda cari, tonton, lalu berbagilah pengalaman dengan kami.

Terimakasih

Selengkapnya...