29 April 2016

Cara Yang Sangat Bagus Dalam Membantu Prestasi Siswa Melalui Refleksi Pembelajaran



Oleh : Ali Fauzi

Satu paket dalam proses belajar yang acap kali diabaikan adalah refleksi pembelajaran. Beberapa guru memandang bahwa melakukan refleksi atau perenungan dalam belajar sulit dilakukan, terutama untuk anak tingkat Sekolah Dasar (SD). Sungguh, jika kita berani mencobanya dan menggunakan cara yang tepat, maka banyak keajaiban yang kita dapat.

Ketika saya menulis bahwa belajar itu sama dengan melatih berfikir, ini menunjukkan bahwa di usia berapa pun anak harus dilatih dengan tahapan yang tepat. Mari kita lihat kenyataan di sekeliling kita!

Anak usia lima tahun dengan gadget di tangannya dan sangat menguasai dalam memainkannya, itu kita saksikan dimana-mana. Awalnya, mereka hanya melihat. Ketika sudah memiliki dan memegangnya sendiri, lantas dalam waktu yang tidak lama mereka sudah menguasainya. Mari menanamkan kembali keyakinan bahwa anak-anak kita belajar dengan cara yang berbeda. Kita sebagai guru dan orangtua juga harus mendidiknya dengan cara yang berbeda dengan cara kita dididik.

Kembali ke refleksi pembelajaran. Boleh juga disebut evaluasi pembelajaran. Tanpa adanya refleksi dalam pembelajaran, maka seorang anak setelah belajar seperti baru saja menyaksikan berita (bagi yang masig mengajar dengan ceramah), reality show, pertunjukan, atau tayangan sesaat. Sangat sulit menemukan makna belajar dan jika ada hanya makna sesaat. Oleh karena itu, refleksi pembelajaran merupakan bagian penting dalam belajar.

19 April 2016

Peraturan Sekolah Yang “Membunuh” Anak




Oleh: Ali Fauzi

Ketika sekolah ingin menegakkan disiplin yang ketat, maka peraturan sekolah menjadi pilar utama. Faktanya, adanya peraturan seringkali justru menjadi bumerang bagi sekolah itu sendiri. Bukannya hasil positif yang didapat, melainkan justru sebaliknya.

Peraturan dibuat untuk membangun budaya sekolah yang positif. Mulai menjaga, memelihara, menumbuhkan, hingga mengembangkan karakter dan kemampuan anak didik. Sayangnya, masih banyak dijumpai sekolah-sekolah yang secara tidak sadar “membunuh” kreatifitas dan kemampuan anak dengan adanya peraturan tersebut.

Saya sepenuhnya percaya bahwa setiap anak harus memiliki “pilihan” atas apa yang akan mereka lakukan. Namun pada saat yang bersamaan, anak juga membutuhkan “batasan” atas pilihan-pilihan yang mereka miliki. Faktanya, menurut Dr. Richard Curwin, pilihan tanpa batasan dan batasan tanpa adanya pilihan, keduanya tidak bisa mengajarkan kepada anak tentang tanggungjawab apa yang mereka lakukan.

Inilah contoh ekstrem keduanya:
Batasan tanpa pilihan, “Lakukan apa yang saya katakan!”
Pilihan tanpa batasan, “Lakukan apapun yang kamu inginkan!”

Jelas, mengombinasikan keduanya akan melahirkan keuntungan yang sangat besar bagi pembentukan karakter anak terutama dalam hal tanggung jawab.

12 April 2016

Film Pendidikan Inspiratif; Akeelah and The Bee



Oleh : Ali Fauzi


Ini adalah ulasan kedua tentang film pendidikan yang menginspirasi. Sebelumnya saya menulis ulasan tentang film inspiratif bagi guru, yaitu film Front of The Class, lihat ulasannya di sini.

Menonton film memiliki arti belajar tentang kehidupan melalui kisah orang lain. Dalam bentuk cerita yang menarik, sebuah film mampu menjadi sebuah hiburan sekaligus pendidikan. Unsur hiburan menjadi sangat penting karena proses belajar memang harus menyenangkan.

Ketika kita menjumpai seorang anak memiliki kelebihan tertentu dan kita kurang mengerti bagaimana cara mengembangkannya, maka menonton film ini akan membantu kita untuk menemukan, menumbuhkan, dan mengembangkan kemampuan anak. Film ini berjudul Akeelah and The Bee. Sebuah film yang mengisahkan Akeelah Anderson, anak berusia 11 tahun yang berasal dari sebuah sekolah yang biasa-biasa saja dan memiliki kemampuan mengeja yang bagus.

Kemampuan yang dimiliki oleh Akeelah bukan karena dia memiliki indera keenam atau karena memiliki kemampuan luar biasa. Akeelah hanya memiliki kemampuan dan kemudian bertemu dengan guru yang tepat dengan metode yang tepat pula. Inilah kelebihan film yang rilis tahun 2006 ini. Berbeda dengan film dengan tema sejenis yang berjudul Bee Season. 

Dalam film ini, kita akan tahu bagaimana cara menumbuhkan kepercayaan diri anak, perlunya kerja keras, dan metode yang tepat dalam mendidik anak. Film ini juga diperkaya dengan konflik antar teman, konflik keluarga, kejujuran, dan konflik diri. Jika ingin belajar tentang manajemen diri, film ini bisa menjadi pilihan untuk ditonton. Dan masih banyak hal positif lainnya.

Saya sudah menontonnya, kemudian mengajak siswa kelas 6 menontonnya juga, mereka pun sangat antusias. Luangkan waktu sejenak, tinggalkan televisi, tontonlah film ini. Dan kemudian berbagilah dengan kami di blog ini. Terimakasih


Catatan: jika ingin menonton bersama anak-anak, mohon menontonnya terlebih dahulu, karena ada satu scene yang hanya sekitar lima detik yang perlu disensor. Biasa... film hollywood.

08 April 2016

Kenapa "Belajar Berkelompok" Sangat Penting Bagi Pembentukan Karakter Bangsa?

















Oleh : Ali Fauzi

Ketika setiap individu—dari anak-anak sampai orang dewasa—bebas mengakses internet kapanpun dan dimanapun, secara bersamaan budaya individualistik ikut berkembang. Pendidikan yang awalnya dibangun dari hubungan personal guru dan murid, kini mulai bergeser. Setiap individu tidak lagi perlu bertemu orang lain untuk belajar sesuatu.

Belajar berkelompok sebagai bagian dari cooperative learning sangat penting untuk kita lakukan dalam pembelajaran. Minimal, sebagai penyeimbang pesatnya perkembangan karakter individualistik. Strategi ini berlandaskan pada teori belajar Vygotsky yang menekankan pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan kognitif.

Dalam tulisan ini akan saya bahas kenapa belajar kelompok sangat berpengaruh terhadap pembentukan budaya bangsa. Anak akan belajar apa saja dari kegiatan ini dan akibat jangka panjang apa saja yang akan mereka terima dari metode pembelajaran aktif ini.

Dengan digulirkannya kurikulum 2013, cooperative learning menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Ada kemiripan tujuan dalam beberapa hal antara kurikulum 2013 dan cooperative learning. Keduanya sama-sama ingin setiap anak memperoleh hasil yang baik dalam bidang akdemis (kognitif), penerimaan atas keragaman, dan mengasah keterampilan sosial.

Dalam belajar kelompok, siswa belajar bersama 3 sampai dengan 5 orang temannya. Jumlahnya bebas. Dalam prosesnya, anak akan belajar beberapa hal berikut:

01 April 2016

Manajemen Sekolah; Orangtua dan Sekolah, "Be a Partner!"

kinvolved.wordpress.com



“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah keterpautan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad”

Kahlil Gibran


Oleh: Ali Fauzi

Butuh satu kampung untuk mendidik anak.

Pepatah ini menunjukkan bahwa setiap anak akan belajar tentang banyak hal dari siapapun. Jika dalam satu hari seorang anak berjumpa dengan 50 orang, maka dia akan belajar sekitar 50 karakter atau nilai. Apa yang paling sering dilihat akan menjadi pembentuk sikap dan karakternya.

Anak yang sering melihat orangtuanya membaca, anak pun akan membangun dirinya seperti orangtuanya, ikut membaca. Orangtua yang sering menunjukkan berbantah dengan pasangannya, pada saat yang bersamaan anak sedang belajar cara menjawab jika disalahkan. Orangtua yang sering mengajak anak bersilaturahim ke tetangga dan berbagi, maka muncul keyakinan bahwa perbuatan tersebut harus aku lakukan juga. Dan seterusnya dan seterusnya.

Begitulah cara belajar anak. Setiap anak akan mencari referensi sikap atas hidupnya. Jika orangtua dan guru sering menunjukkan dan berlatih bersama tentang problem solving, maka anak akan mengambil memori itu untuk menyelesaikan masalahnya. Jika anak tidak mendapatkan contoh dari orangtua dan guru, maka sikap teman atau orang dewasa lain yang akan menjadi referensi sikapnya.

Atas dasar inilah, pendidikan karakter harus dibangun senada dan seirama baik di sekolah, di rumah, atau di lingkungan masyarakat. Jika tidak, akan muncul anak yang lebih menaati gurunya ketimbang orangtuanya atau sebaliknya. Jika antara sekolah dan orangtua selalu berbeda, anak secara alami akan memilih yang paling membuatnya aman. Padahal seharusnya, anak harus bisa memilih yang terbaik di antara contoh-contoh yang ada.

Di bawah ini adalah beberapa hal yang sering terjadi dalam diri kita.