2 Agustus 2013

Kelas Inspirasi Ramadhan

Pada kesempatan berbagi materi di Pesantren Latihan Riyadhah Ramadhan kepada anak-anak SD Al Azhar Syifa Budi Cibubur-Cileungsi tahun 2013 ini, penulis mengajukan pertanyaan: Ketika Tuhan memberikan satu kesempatan untuk pasti berhasil, maka apa yang akan kamu lakukan untuk mewujudkannya?

Pertanyaan itulah yang menginspirasi anak-anak untuk mencari cara bagaimana berusaha yang terbaik yang bisa mereka lakukan. Mereka berusaha mengetahui dan menyadari bahwa Tuhan tidak pernah pilih kasih. Manusia terlahir dengan potensi yang sama. Apabila ada yang pintar dan kurang pintar, maka perbedaannya adalah dalam strategi penggunaan otak; yang satu dilatih dan yang lain kurang dilatih.

Itulah materi yang terinspirasi dari salah satu bagian dalam Indonesia Mengajar. Semoga anak-anak Indonesia menjadi pribadi unggul.

Selengkapnya...

31 Mei 2013

Gerakan Direksi Mengajar, Membangun Mental Juara



Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengajar di SMA Negeri 1 Bogor, Jawa Barat (20/05/2013)

Pendidikan merupakan hak setiap orang. Berkat pendidikan, setiap orang bergerak menuju tahapan yang lebih tinggi dalam kehidupannya. Dalam skala yang lebih luas, pendidikan merupakan lokomotif menuju perubahan. Artinya, kemajuan pendidikan sebuah negara dimaknai akan mengangkat derajat suatu bangsa menjadi bangsa yang maju. Memahami hal tersebut, tidak hanya pemerintah yang turun tangan, tetapi juga pihak-pihak lain yang memiliki perhatian pada dunia pendidikan.

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, 11 Direksi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengajar secara serentak di 11 sekolah menengah atas (SMA) di seluruh Indonesia. Kegiatan ini juga merupakan dukungan atas Gerakan Direksi Mengajar yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN. Para direksi tersebut mengajar di sekolah yang dulunya merupakan tempat para direksi pernah mengenyam pendidikan SMA atau sekolah yang telah ditentukan oleh BRI.

“Sebanyak 11 SMA yang menjadi tempat mengajar direksi BRI, yaitu SMA Negeri 1 dan 2 di Bogor, SMA Negeri 1 Sragen, SMA Negeri 1 Pangkah-Tegal, SMA Negeri 1 Boja-Semarang, SMA Negeri 16 Surabaya, SMA Negeri 1 Boyolali, Ummul Quro Bogor, SMK Negeri 1 Pare-Pare, SMA Negeri 2 Yogyakarta, dan SMA Negeri 3 Purwokerto,” ungkap Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali di Jakarta.

Dengan mengusung tema “Membangun Mental Juara Bersama BRI”, melalui sharing pengalaman dan kisah sukses, para direksi tidak hanya mengajar, tetapi juga mengajak para siswa memiliki mental juara dalam mengejar cita-citanya. Beberapa nilai yang ingin ditanamkan melalui program Gerakan Direksi Mengajar di antaranya adalah kejujuran, kerja keras, dan tekad yang kuat untuk mencapai prestasi tertinggi.

Kegiatan ini mendapat apresiasi yang sangat baik dari pihak sekolah. Umumnya mereka menyatakan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi para siswa untuk mencapai cita-citanya. “Sekolah kami hari ini seperti mendapat durian runtuh. Kami tidak menyangka sekolah yang cukup jauh dari kota ini mendapat kesempatan untuk memperoleh sharing success story dari Direktur BRI. Kami harap kedatangan direktur BRI dapat meningkatkan motivasi para siswa dalam berprestasi,” kata Kepala Sekolah Negeri 1 Pangkah, Tegal Munaseh.

Agar lebih menyatu dengan para siswa, sistem pengajaran dibuat dengan konsep yang santai dalam balutan diskusi interaktif. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami. Hari ini kami mendapatkan pelajaran berharga dari Direktur BRI yang tidak lain adalah kakak kelas kami sendiri. Suatu saat, saya akan menjadi orang yang lebih hebat dari beliau,” ujar Ketua OSIS SMAN 2 Bogor Triani Nur Fariha.

Ali mengatakan, manajemen perusahaan sangat mendukung gerakan ini. Nantinya, kegiatan ini dapat memotivasi dan menginspirasi siswa-siswi. “Semoga adik-adik kita ini terpacu untuk meraih mimpinya pada masa depan. Jadi, mereka melihat langsung ‘kakaknya’, untuk sukses itu, seperti direksi ini,” ungkap Ali.

Sebagai wujud komitmen BRI untuk mendukung peningkatan dunia pendidikan, selain berbagi success story, BRI turut memberikan bantuan Corporate Social Responsibility BRI Peduli Pendidikan di 11 sekolah tempat direksi mengajar. Bentuk bantuan merupakan sarana prasarana pendidikan dengan nilai bantuan lebih dari Rp 2 miliar, yang meliputi laptop, laboratorium, renovasi sekolah, alat-alat kesenian, dan lain-lain.

“Dengan bantuan sarana prasarana penunjang pendidikan, diharapkan mutu pendidikan di sekolah meningkat untuk meningkatkan motivasi dan prestasi para siswa,” tutur Ali.

Sumber: banggaberindonesia.com

Selengkapnya...

15 Mei 2013

Mendidik Anak Berpikir Kritis dan Analitis

Oleh: Moh Ali Fauzi

Kalau anda memberi ikan kepada orang kelaparan, maka anda menyelamatkannya hari ini. Akan tetapi, kalau anda mengajarinya memancing, maka anda menyelamatkan dia dalam waktu panjang. Inilah salah satu alasan kenapa penting dan perlu mengajarkan anak berpikir analitis.

Transfer pengetahuan ke anak memiliki beberapa tipe. Salah satu yang digemari adalah model hafalan. Padahal model ini sudah seharusnya tidak sering dipakai lagi. Karena kalau diteliti dan diingat, apa yang kita ajarkan kepada anak melalui hafalan tidak lebih penting dari cara mengolah pengetahuan itu sendiri.

Pada akhirnya, pengetahuan bukan untuk menjawab soal ulangan atau ujian, melainkan untuk modal mengarungi kehidupan.

Cepatnya informasi memudahkan bagi siapapun untuk mengetahui banyak hal. Kalau pengetahuan sungguh mudah, maka modal penting bagi anak adalah cara mengolah dan memanfaatkannya. Karena, keterampilan ini juga akan mereka gunakan dalam memecahkan kehidupan sehari-hari.

Melatih anak berpikir kritis dan analitis haruslah melalui tahapan. Ini adalah tahapannya.

1. Memahami

Ini adalah tahap awal. Memahami dengan baik pengetahuan itu sendiri.

2. Membandingkan untuk Mengidentifikasi perbedaan dan persamaan

Latihlah anak untuk membandingkan dua persoalan yang berbeda atau dua pengetahuan yang terkait. Bisa jadi yang pro dan kontra, yang kini dan sebelumnya, atau pengetahuan yang sejenis di kasus yang berbeda.

Tujuan utama membandingkan adalah kemampuan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan.

3. Menarik kesimpulan (sintesis)

Setelah membandingkan, maka mengajari anak untuk menarik kesimpulan. Dalam proses ini, bisa jadi nanti mengambil kelebihan dua-duanya atau mengkolaborasi dan memadukan persamaan dan perbedaan tersebut.

4. Berpikir mandiri

Inilah tahap kreatif yang ingin dicapai. Buatlah contoh, ciptakan kondisi, dan latihlah anak untuk tidak takut mencoba hal baru yang belum pernah ada.

Terimakasih, semoga bermanfaat.

Selengkapnya...

15 April 2013

Film Pendidikan Yang Menginspirasi

Oleh: M. Ali Fauzi

Menjadi guru itu mengasyikkan. Itulah setidaknya yang sangat jelas terasa ketika menonton film ini. Menjadi guru juga haruslah merupakan panggilan hati. Film yang berjudul Front of The Class ini bukan film biasa. Film ini berkisah tentang seorang guru yang berhasil membuat anak-anak didiknya mencintai, berbahagia, dan membanggakannya.

Film ini mampu membuat kita terdiam beberapa saat setelah menontonnya. Terdiam karena film ini menarik, menyadarkan, memberikan semangat, menginspirasi, menghibur, dan sangat menyentuh.

Para guru, kalau anda butuh semangat baru, perlu charging spirit lagi, film ini sangat cocok. Mungkin anda akan terpesona, menitikkan air mata, merasa bangga, dan kita akan terbangun bahwa aku juga bisa dan bisa lebih baik.

Untuk para guru dan orangtua, ini adalah film yang sangat tepat untuk ditonton. Anda cari, tonton, lalu berbagilah pengalaman dengan kami.

Terimakasih

Selengkapnya...

1 April 2013

Wahai Para Guru, Sudahkah Memiliki Sikap ini?

Oleh: M. Ali Fauzi

Mari kita peduli! Mari kita mulai sekarang!

Terkadang masih ada yang berangkat pagi-pagi, menyampaikan materi seharian, kemudian pulang. Besoknya, kemungkinan sama. Lusa, sama. Bisa jadi akan sama dalam setahun, dua tahun, atau bahkan lima tahun. Ya, masih saja ada yang mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban. Sesudah itu, selesai.

Padahal, potensi terbesar untuk merubah masa depan bangsa ada di pundak para pemudanya. Mereka memiliki dua jalan. Jalan pertama memungkinkan mereka jatuh ke jurang kehancuran, kecanduan, dan lembah-lembah tak bermoral. Jalan kedua memungkinkan mereka membangun pribadi yang kuat, mandiri, jujur, tanggung jawab, dan adil.

Maka, wahai para guru, kita harus mendidik dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, sudahkah kita memiliki sikap ini…

- Memberikan pengalaman saat belajar

- Mengajar dan mendidik dengan penuh semangat

- Berusaha mengerti terlebih dahulu baru dimengerti

- Mendidik dengan cara yang disukai anak-anak

- Memberi perhatian setiap kemajuan

- Memandang semua anak berpotensi

- Senang ketika anak-anak bertanya

- Senang melihat anak-anak belajar

- Memuji ketika dia berhasil

- Tidak marah saat anak meluruskan pengetahuan kita

- Tetap sabar ketika ada anak mengalami kesulitan

- Menjadi teladan yang baik

- Bersikap mendidik tanpa marah ketika anak melakukan kesalahan

- Menyayangi seperti anak sendiri

- Bahkan, sedih ketika mendengar anak bersikap tidak baik di luar sekolah

- Dan, Mendoakannya di malam hari

Daftar di atas hanya beberapa. Kita bisa membuatnya lebih banyak. Yang harus kita ingat adalah bahwa setiap anak mencoba belajar tentang hidup dari orang-orang terdekatnya baik keluarga, sekolah, ataupun lingkungan. Ketika anak kurang mengerti terhadap sikapnya, maka mereka akan terus melakukannya sampai ada yang menunjukkan cara yang lebih baik.

Maka mari kita peduli terhadap anak-anak dan generasi muda kita! Karena kita mendidik mereka bukan untuk menghadapi tantangan hari ini, melainkan tantangan di masa yang akan datang.

Selengkapnya...

26 Maret 2013

Peraturan Kelas: 4 Aturan Penting Membuatnya

Oleh: M. Ali Fauzi

Ruang kelas adalah tempat yang tak terduga sekaligus penuh makna. Selain belajar dan bermain, di kelas, anak akan belajar menghargai orang lain. Di kelas juga, anak akan saling berbagi ilmu dan informasi. Namun, ruang kelas bisa menciptakan lebih dari itu semua.

Di kelas, anak bisa belajar memilih melakukan sesuatu yang baik dan kurang baik. Anak juga akan belajar tentang resiko dan tanggung jawab, belajar tentang perasaan orang lain, belajar tentang kepercayaan diri, mengatur diri, dan mengasah kreativitas. Itu semua tergantung kita, para guru, sebagai pengelola kelas.

Agar keteraturan dan ruang belajar anak terbuka seluas-luasnya, maka perlu peraturan dan prosedur kelas. Inilah empat aturan dasar dalam membuat peraturan kelas.

1. Buatlah peraturan bersama-sama dengan anak.

Membuat peraturan bersama anak, akan menimbulkan tanggungjawab bersama. Sehingga, peraturan itu nantinya akan ditegakkan dan disepakati bersama oleh penduduk kelas. Biasanya, peraturan yang muncul akan sangat banyak. Maka, tugas guru adalah membuat peraturan itu menjadi sesuai dengan aturan-aturan di bawah ini.

2. Menggunakan Bahasa dan kata-kata yang positif

Bahasa yang positif akan menunjukkan kepada anak didik apa yang seharusnya dilakukan. Sedangkan bahasa dan kata-kata yang negatif akan menunjukkan kepada siswa bagaimana cara menghindari sesuatu.

Contoh bahasa yang positif:

Mendengarkan ketika seseorang sedang berbicara

Contoh bahasa yang negatif (biasanya ditandai dengan kata “jangan”/”tidak boleh”):

Jangan berlari di dalam kelas

3. Bahasa peraturan harus jelas

Setiap anak harus memahami dengan baik sebuah peraturan. Sehingga anak juga memahami apa yang harus dilakukan dengan peraturan itu.

Contoh yang kurang jelas :

Setiap anak harus bersikap yang baik.

Contoh yang jelas:

Mengikuti instruksi guru.

4. Usahakan jumlah peraturan hanya sedikit

Dengan jumlah yang sedikit, maka anak akan lebih mudah mengingat dan mematuhinya. Bagi guru, juga akan lebih mudah untuk mengingatkan dan menegakkan peraturan tersebut.

Contoh: peraturan mengikuti instruksi guru, sudah mengandung banyak peraturan. Seperti duduk yang tertib saat belajar, tidak makan saat belajar, dan seterusnya.

Hal penting dalam menegakkan peraturan kelas adalah konsistensi dan kepercayaan kita sebagai guru kepada anak. Apabila ada satu anak saja yang kita biarkan melanggar peraturan, maka anak lain akan mengikutinya secara otomatis.

Terakhir, sampaikan harapan dan kepercayaan kita kepada anak bahwa mereka mampu menaatinya dengan baik dan penuh semangat. Karena peraturan dibuat untuk kebaikan kita bersama.

Selamat mencoba!

Selengkapnya...

20 Maret 2013

Kecerdasan Emosi; Permainan Aku Suka dan Tidak Suka

Oleh: M. Ali Fauzi

Setiap tahun, sebagai guru, saya sengaja menyediakan dua jam pelajaran dalam satu semester. Dalam dua jam pelajaran ini, anak-anak tidak belajar materi bidang studi. Mereka belajar mengenal emosi dan perasaannya. Anak-anak juga belajar tentang dirinya dan orang lain. Materi ini saya sebut dengan “Suka dan Tidak Suka”

Tujuannya, agar mereka bisa menjadi penasihat dan motivator bagi dirinya sendiri dan temannya. Dengan kegiatan ini, anak juga akan tahu bagaimana teman-teman sekelasnya melihat dan menilai sikap dirinya. Sehingga anak-anak bisa mengambil sikap berikutnya yang lebih baik bagi dirinya dan orang lain.

Biasanya saya menyediakan dua kali pertemuan untuk materi ini.

Berikut ini adalah langkah-langkahnya:

1. Siswa duduk membentuk lingkaran besar.

2. Setiap siswa memiliki kertas yang sudah ditulis nama dan memegang alat tulis.

3. Kertas akan berputar ke kanan/kiri satu kali sampai kembali ke pemiliknya.

4. Penerima kertas akan menulis suka/tidak suka secara acak dari segi urutan, tanpa nama penulis pesan, dan dalam waktu 30 detik/1 menit.

5. Hal penting, anak menulis tanpa berbicara.

6. Berikut contoh form:



Membuka pertemuan ini dengan baik sangatlah penting. Menekankan kejujuran dan peduli terhadap teman adalah nilai utama yang harus dipahami anak. Berikutnya, bawalah mereka agar menjadi penasihat yang baik.

Terimakasih

Selengkapnya...